TUBABA  

Aroma Kejanggalan Proyek Jalan DPUPR Tubaba, Lapen dan Hotmix Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

Pada tahun 2025 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) menganggarkan dana mencapai Milyaran Rupiah yang di pusatkan untuk Proyek Peningkatan Ruas Mekar Asri – Wonokerto -SP Tiuh Toho (008).
CV. RATU ANINDIYA KARYA keluar sebagai pemenang dengan harga penawaran Rp. 2.447.164.659,67 dari HPS Rp. 2.499.970.150,57 hanya turun sebesar Rp.52.805.491 atau 2,1 Persen saja.

Anehnya meskipun lolos dengan harga penawaran yang terbilang rendah hanya 2,1 persen saja dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Akan tetapi dalam pelaksanaan kegiatan proyek tersebut terindikasi menyalahi kontrak.

Hal itu begitu terlihat jelas dari kondisi dilapangan tidak terlihat adanya direksi ket, tidak adanya papan himbauan keselamatan kerja, tidak terlihat adanya tenaga ahli K3.
Bahkan, alat berat berupa Asphalt Finisher, Pneumatic Tire Roller (PTR) Diduga kuat milik Dinas PUPR Tubaba itu sendiri. Sehingga kuat dugaan proyek tersebut di sinyalir kuat syarat adanya Persekongkolan.

Selanjutnya, untuk tahapan pelaksanaan kegiatan terkesan mengabaikan kualitas mutu yang di persyaratkan.
Seperti, pada pekerjaan Lapisan Penetrasi (Lapen) diduga kuat hanya menghasilkan lapen terpasang dengan ketebalan sekitar 1 hingga 2 cm saja dari ketebalan 5 cm terpasang setelah dipadatkan yang di persyaratkan.

Begitu juga dengan pekerjaan Hotmix. pada pelaksanaan pekerjaan Hotmix diduga kuat dikerjakan asal asalan. Hal itu begitu terlihat jelas dari hasil penghamparan hotmix setelah dipadatkan, menghasilkan jalan hotmix yang tidak rata, bergelombang dengan ketebalan bervariasi sekitar 2 centimeter sampai 5 centimeter saja. Dari ketentuan ketebalan yang di persyaratkan sebesar 6 cm setelah dipadatkan.

Bahkan, penghamparan dan pemadatan hotmix digelar pada saat cuaca mendung setelah semalaman turun hujan yang di beberapa titik badan jalan masih terlihat dalam kondisi lembab dan basah. Sehingga Kualitas hasil dari kegiatan tersebut berpotensi meragukan.

Sebab, dalam keadaan badan jalan dalam kondisi lembab hal itu berpotensi mengakibatkan Penurunan Suhu Cepat: Cuaca mendung atau hujan menyebabkan suhu udara dan permukaan lebih rendah. Aspal hotmix harus dijaga pada rentang suhu tertentu (sekitar 130°C–150°C saat penghamparan) untuk memastikan pemadatan yang optimal. Suhu yang cepat turun akan membuat aspal mengeras lebih cepat sebelum proses pemadatan selesai. Sehingga menghasilkan kualitas yang buruk.

Risiko Kerusakan: Pengaspalan yang dilakukan dalam kondisi basah atau dingin berisiko menciptakan rongga udara atau kurang padat, yang menyebabkan umur jalan lebih pendek, rentan terkelupas, dan memerlukan biaya pemeliharaan tinggi di masa depan.

Secara umum, kondisi cuaca yang ideal untuk pengaspalan adalah saat kering dan hangat (suhu udara sekitar 21°C atau lebih tinggi) untuk memastikan hasil terbaik.

Selanjutnya, Alat, Air Compressor untuk membersihkan permukaan jalan dari debu dan kotoran sebelum penyemprotan aspal perekat. Digunakan setelah hari kedua proses pelaksanaan pekerjaan berlangsung.

Kesimpulan, Berdasarkan penelusuran di lapangan didapati ketebalan yang di hasilkan dari keseluruhan pelaksanaan proyek tersebut mulai dari pekerjaan Lapen hingga pekerjaan hotmix setelah dipadatkan berkisar antara ketebalan 5 hingga 8 cm meter saja yang menyebabkan secara kualitas proyek tersebut meragukan.

Rohim. Konsultan Pengawas. Sabtu (20/12/2025). Di lokasi pekerjaan saat melakukan pengukuran mengatakan luasan proyek tersebut sekitar 1 kilo 85 meter dengan lebar bervariasi dengan ketebalan lapen 5 cm.

” Lebarnya bervariasi, kalau di gambarnya 3,5 meter bang lebarnya. Kalau panjang 1 kilo 85 meter kalau lapennya idealnya 5 cm” beber Rohim.

Ketika dimintai tanggapan terkait hasil pekerjaan lapen yang di hasilkan diduga tidak sesuai dengan yang ia jelaskan yang hanya menghasilkan lapen dengan ketebalan 1 sampai 2 cm saja. Rohim berdalih pekerjaan tersebut telah sesuai. Namun dirinya mengarahkan untuk konfirmasi langsung dengan pihak rekanan.
” Nanti bang nunggu rekanan saja jangan saya sendirian” kelit Rohim

Saat kembali ditegaskan, hasil pemasangan lapen yang hanya 1 sampai 2 cm saja yang menyalahi dari ketentuan 5 cm yang di persyaratkan. Rohim berdalih hal itu merupakan kewenangan Dinas PUPR dan Rekanan.
” Iya nanti biar pihak PU dan pihak Rekanan bang, kalau saya gini bang intinya nanti kita lapor ke pihak mereka” elaknya.

Di konfirmasi terpisah Rido. Selaku Pejabat Pelaksanaan Teknis Kegiatan (PPTK). Jum’at (26/12/2025) saat penggelaran pekerjaan hotmix berlangsung mengatakan ketebalan lapen pada proyek tersebut idealnya 5 cm.
” Lapen idealnya 5 cm” kata Rido.

Ketika dimintai tanggapan hasil pekerjaan lapen terpasang pada proyek tersebut diduga menyalahi ketentuan yang di persyaratkan dia menegaskan bahwa hal itu merupakan tanggung jawab Konsultan Pengawas.
“Tidak boleh seperti itu makanya adanya konsultan pengawas jangan lepas tanggung jawab ” cetus Rido.

Saat dimintai keterangan kejelasan penggelaran hotmix pada saat mendung. Rido berdalih hal itu tidak di permasalahkan.
” Boleh saja yang penting tidak hujan, idealnya Hotmix 6 cm setelah dipadatkan” elak Rido.

Ketika dimintai keterangan keberadaan Direksi Ket dan Kejelasan dari Alat berat yang di gunakan pada pelaksanaan proyek tersebut Rido menegaskan.

” Wajib adalah direksi ket. Kalau alat beratnya memang dari PU tapi mereka sewa. Beber Rido.

Di konfirmasi kembali melalui WhatsApp. Rido. Selaku PPTK Bina Marga PUPR Tubaba Senin (29/12/2025). Beralasan bahwa untuk menanggapi hal tersebut merupakan kewenangan kepala Bidang.

“Pak kabid lagi dinas luar bang hari ini, Iya bang medi pak kabid sudah mengetahui nanti beliau yang menanggapi pemberitaan nya bang” Balas Ridho. Senin (29/12/2025).

Eki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *